Ada Apa dengan Angka 22 dalam Haji dan Surah al-Hajj?
Ada satu hal menarik yang mungkin belum banyak orang tahu.
Ternyata, kapan tepatnya ibadah haji diwajibkan termasuk perkara yang diperselisihkan oleh para ulama. Ada pendapat yang menyebut kewajiban haji terjadi pada tahun ke-6 Hijriah, ada pula yang mengaitkannya dengan masa yang lebih akhir.
Namun, dalam salah satu pembacaan kronologi masa kenabian, ada sebuah kesesuaian angka yang menurut saya cukup menarik.
Angka 22.
Jika dihitung dari awal masa kenabian, tahun ke-9 Hijriah merupakan tahun ke-22. Pada periode inilah haji menjadi salah satu momentum penting dalam kehidupan umat Islam, dengan pelaksanaan haji Nabi Muhammad ﷺ pada tahun ke-10 Hijriah.
Yang membuat saya kemudian benar-benar tertarik adalah: Surah al-Hajj merupakan surah ke-22 dalam susunan mushaf Al-Qur'an.
22 dan 22.
Apakah ini sebuah kebetulan?
Tentu, kita perlu berhati-hati. Kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa kesamaan angka tersebut pasti merupakan mukjizat atau kode tertentu dalam Al-Qur'an. Urutan surah dalam mushaf juga berbeda dengan urutan turunnya wahyu. Tetapi, bagi saya, kesesuaian ini cukup menarik untuk dijadikan pintu masuk tadabbur.
Apalagi ketika kita membuka Surah al-Hajj, kita menemukan pembicaraan yang sangat erat dengan ibadah haji.
Allah berfirman:
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus; mereka datang dari segenap penjuru yang jauh.”
(QS. al-Hajj: 27)
Ada seruan. Ada perjalanan. Ada manusia yang datang dari berbagai penjuru. Dan semuanya menuju satu tempat yang sama: Baitullah.
Mungkin karena itu, ketika menemukan kesesuaian angka 22 tadi, saya merasa ada sesuatu yang indah untuk direnungkan. Bukan soal membuktikan bahwa angka 22 adalah sebuah kode rahasia Al-Qur'an, tetapi tentang bagaimana sebuah kesesuaian kecil bisa membawa kita kembali melihat kebesaran pesan yang terkandung dalam Surah al-Hajj.
Haji pada akhirnya bukan hanya perjalanan menuju Makkah.
Ia adalah perjalanan memenuhi panggilan Allah.
وَأَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ
“Serulah manusia untuk mengerjakan haji.”
Dan sejak Nabi Ibrahim عليه السلام menyerukan panggilan itu, manusia dari berbagai penjuru dunia terus berdatangan.
Barangkali, yang lebih penting daripada bertanya “Mengapa angka 22?” adalah bertanya kepada diri sendiri:
Ketika panggilan Allah datang kepada kita, sudahkah kita benar-benar menjawabnya?
