Mengapa Allah Menyebut Diri-Nya al-Wadūd Setelah al-Ghafūr?

Ada ayat-ayat Al-Qur’an yang sebenarnya sudah sering kita baca, tetapi baru terasa menarik ketika kita berhenti sejenak dan bertanya: mengapa Allah memilih kata ini? Mengapa satu nama Allah diletakkan setelah nama yang lain?

Salah satunya adalah firman Allah dalam Surah al-Burūj ayat 14:

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

“Dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pencinta.”
(QS. al-Burūj: 14)

Terus terang, selama membaca Surah al-Burūj, saya tidak selalu “ngeh” dengan susunan dua nama Allah dalam ayat ini. Padahal, ketika diperhatikan, ada sesuatu yang menarik. Allah menyebut al-Ghafūr—Yang Maha Pengampun—kemudian langsung menyebut al-Wadūd—Yang Maha Mencintai.

Mengapa setelah ampunan ada cinta?

Para ulama menjelaskan bahwa al-Wadūd berkaitan dengan al-wudd, yaitu kecintaan yang kuat dan mendalam. Karena itu, ketika Allah menyebut diri-Nya sebagai al-Wadūd, kita tidak sedang berbicara tentang cinta dalam pengertian yang biasa kita pahami sebagai manusia. Ia menunjukkan kesempurnaan kasih dan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Menariknya, nama ini datang setelah al-Ghafūr.

Seakan-akan ada pesan yang ingin disampaikan: ketika seorang hamba berdosa lalu kembali kepada Allah, persoalannya tidak berhenti pada pengampunan dosa. Hubungan seorang hamba dengan Allah juga dapat kembali dipulihkan.

Ini penting, karena sering kali kita memahami taubat hanya sebagai proses “menghapus dosa”. Seolah-olah setelah seseorang melakukan kesalahan, yang paling ia butuhkan hanyalah agar kesalahannya dihapus dari catatan amal.

Padahal Al-Qur’an memberikan gambaran yang lebih indah.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat.”
(QS. al-Baqarah: 222)

Perhatikan kata yang digunakan Al-Qur’an: يُحِبُّ—Allah mencintai.

Bukan hanya mengampuni.

Ini membuat saya melihat taubat dengan cara yang sedikit berbeda. Taubat bukan hanya tentang bagaimana seseorang keluar dari dosa, tetapi juga tentang bagaimana ia kembali kepada Allah.

Karena itu, orang yang bertaubat tidak perlu merasa dirinya sebagai “hamba kelas dua” hanya karena pernah jatuh dalam dosa.

Kita sering kali lebih keras kepada diri sendiri daripada yang seharusnya. Ketika melakukan dosa, kita merasa terlalu kotor untuk kembali kepada Allah. Kita merasa sudah terlalu jauh. Bahkan terkadang muncul pikiran, “Apakah Allah masih mau menerima saya?”

Padahal Allah sendiri berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS. al-Zumar: 53)

Ada satu bagian yang menarik dari ayat ini. Orang-orang yang telah “melampaui batas terhadap dirinya sendiri” itu tetap dipanggil oleh Allah dengan يَا عِبَادِيَ—“Wahai hamba-hamba-Ku”.

Dosa mereka tidak membuat Allah berhenti menyebut mereka sebagai hamba-Nya.

Tentu ini bukan berarti dosa boleh diremehkan. Taubat bukan sekadar mengucapkan istighfar dengan lisan, sementara seseorang tetap berniat mempertahankan dosa. Taubat menuntut penyesalan, meninggalkan dosa, dan tekad untuk tidak mengulanginya. Tetapi ketika seorang hamba benar-benar kembali kepada Allah, ia tidak seharusnya terus hidup sebagai tawanan masa lalunya.

Di sinilah penyandingan al-Ghafūr dan al-Wadūd terasa begitu indah.

Allah yang mengampuni adalah Allah yang juga mencintai.

Maka jangan sampai rasa bersalah karena dosa justru membuat kita semakin jauh dari Allah. Rasa bersalah seharusnya membawa kita pulang, bukan membuat kita merasa tidak pantas untuk pulang.

Jangan pernah menunda taubat hanya karena merasa diri terlalu kotor.

Kita tidak perlu menunggu menjadi manusia yang sempurna untuk kembali kepada Allah. Justru karena kita tidak sempurna, kita membutuhkan ampunan-Nya.

Dan mungkin inilah salah satu pesan yang dapat kita renungkan dari firman Allah:

وَهُوَ الْغَفُورُ الْوَدُودُ

Dia adalah al-Ghafūr, Yang Maha Pengampun.

Dan Dia juga al-Wadūd, Yang Maha Mencintai.

Ketika kita kembali kepada-Nya dengan taubat yang tulus, jangan hanya berharap dosa kita dihapus. Berharaplah pula agar hubungan kita dengan-Nya kembali dekat.

Sebab taubat bukan sekadar meninggalkan dosa.

Taubat adalah kembali kepada Allah.

Dan kepada Dzat yang kita kembali itu, Al-Qur’an mengenalkan-Nya sebagai al-Ghafūr al-Wadūd: Yang Maha Mengampuni dan Maha Mencintai.